100 tahun kebangkitan indonesia




Delapan belas tahun saya hidup di Indonesia sampai akhirnya tahun 2004 saya memutuskan untuk sekolah di Malaysia dengan tujuan menuntut ilmu dan mencari perspektif yang berbeda dari sekolah di negeri sendiri. Selama empat tahun terakhir sejak 2004-2008 saya baru merasakan jatuh cinta yang luar biasa pada Indonesia. Bersyukur rasanya, memiliki negeri yang kaya raya baik secara budaya maupun (sebenarnya) kekayaan alam. Saya bersyukur menjadi warga negara sebuah negeri yang penduduknya ramah dan sopan dibandingkan tempat yang saya tinggali sekarang. Bersyukur karena makanan Indonesia tidak ada bandingannya di negeri manapun, dan juga bersyukur karena biarpun negeri kita selalu identik dengan imej sebuah negara korup yang miskin, tapi kebudayaannya selalu dirampas oleh negeri tetangga. Sebuah bagian yang membuat saya tertawa bahwa Indonesia tidak sepenuhnya hancur.


Dan melihat Indonesia sekarang yang beberapa minggu terakhir ini dipenuhi demonstrasi yang tidak perlu, menurut saya juga membuat saya sedikit tertawa karena ternyata sebagian dari 200 juta rakyat Indonesia mempunyai nasionalisme yang semu. Sebuah nasionalisme yang tidak intelek dan terkesan bodoh. Mahasiswanya yang tidak bertindak selayaknya individu-individu terdidik menanggapi hal yang terakhir terjadi di negeri kita, kenaikan BBM. Ternyata mereka tidak cukup pintar untuk menanggapi bahwa harga minyak dunia sedang berada di puncaknya. Harusnya rakyat lebih pintar bersyukur bahwa di Indonesia harga BBM masih terjangkau dan mungkin harusnya mereka lebih banyak belajar untuk tidak banyak menuntut dan belajar untuk lebih banyak bersyukur.

Di akhir-akhir masa kuliah saya, saya akhirnya membuat keputusan besar untuk pulang ke Indonesia dan memulai usaha dari nol di tengah kesempatan kerja yang rasanya lebih besar disini dan tentunya lebih menggiurkan secara material. Biarpun menurut anda hal tersebut terdengar naif, tapi bagi saya, memberikan kontribusi terhadap negeri sendiri ditengah keadaan seperti ini dan berbekalkan sertifikat pendidikan luar negeri adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan, it is the least i can do. Bagi saya, daripada hidup bergelimangan harta di negeri orang, lebih baik hidup pas-pasan di negeri sendiri. Lebih dekat dengan keluarga, lebih dekat dengan sahabat dan sanak saudara rasanya lebih bahagia ketimbang kebanjiran harta.

Tadi saya baru saja menyimak iklan 100 tahun kebangkitan nasional yang isinya adalah sebuah pidato singkat dari Deddy Mizwar yang menjelaskan apa arti sesungguhnya dari kata-kata “Bangkit” itu sendiri. Rupanya kata-kata beliau sangat-sangat menginspirasi saya. Jika ditanya “apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia?” saya akan menjawab, “Pulang ke kampung halaman dan berusaha memberikan kontribusi sebesar mungkin untuk ibu pertiwi tercinta, Indonesia.”

Karena paling tidak itulah yang bisa saya lakukan untuk Indonesia tercinta yang selalu hidup dalam hati saya yang paling dalam, dan tentunya kebanggan saya sebagai orang Indonesia. Saya memulai dari diri sendiri dan inilah bentuk perjuangan terkecil saya.


0 comments

Make A Comment
top